Kesepakatan Dagang AS-Jepang 2026: Tokyo Pilih Setia, Abaikan Gejolak Putusan Mahkamah Agung AS
WASHINGTON D.C. / TOKYO – Di tengah guncangan hukum di Amerika Serikat, Jepang memilih jalur diplomasi yang stabil. Tokyo dan Washington secara resmi menegaskan komitmen mereka untuk tetap berpegang pada kesepakatan perdagangan tahun 2025, meskipun Mahkamah Agung (MA) AS baru saja membatalkan tarif resiprokal yang diusung Presiden Donald Trump.
Keputusan ini menjadi angin segar bagi pasar global, mengingat ketidakpastian yang sempat muncul setelah intervensi hukum dari MA AS terhadap kebijakan tarif “tit-for-tat” Gedung Putih.
Investasi Jumbo US$550 Miliar Jadi Taruhan
Kesepakatan yang dicapai tahun lalu ini bukanlah kompromi kecil. Berdasarkan perjanjian tersebut, AS setuju untuk memangkas ancaman tarif impor asal Jepang dari 25% menjadi 15%. Sebagai imbalannya, Jepang berkomitmen menyuntikkan investasi raksasa senilai US$550 miliar (sekitar Rp9.254 triliun) ke dalam ekonomi Amerika Serikat.
Dalam panggilan telepon pada Selasa (24/2/2026), Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Menteri Perdagangan. Jepang Ryosei Akazawa menyambut baik realisasi proyek pertama di bawah kesepakatan ini yang bernilai US$36 miliar.
“Menteri Akazawa meminta agar Jepang tidak diperlakukan kurang menguntungkan dibandingkan kesepakatan tahun lalu, terutama saat pemerintah AS memberlakukan langkah-langkah tarif baru,” tulis pernyataan resmi Kementerian Perdagangan Jepang.
Perbedaan Tajam: Jepang vs Uni Eropa
Langkah konsisten Jepang ini berbanding terbalik dengan dinamika di Benua Biru. Uni Eropa (UE) justru menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Pada Senin lalu, anggota parlemen UE sempat menggodok rencana untuk membatalkan kesepakatan dagang mereka dengan AS. Meskipun rencana tersebut akhirnya ditunda untuk sementara waktu.
Donald Trump sendiri memberikan peringatan keras melalui media sosial kepada negara-negara yang mencoba memanfaatkan putusan MA untuk membatalkan komitmen mereka.
“Negara mana pun yang ingin ‘bermain-main’ dengan keputusan Mahkamah Agung ini. Hal ini akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi dan lebih buruk,” tegas Trump.
Analisis: Mengapa Jepang Memilih “Main Aman”?
Untuk memahami mengapa Tokyo tetap setia pada kesepakatan ini meski ada celah hukum, kita perlu melihat beberapa poin strategis:
-
Kepastian Rantai Pasok: Bagi industri otomotif dan teknologi Jepang, kepastian tarif 15% jauh lebih baik daripada ketidakpastian yang bisa melonjak ke angka 25% jika mereka memicu kemarahan Gedung Putih.
-
Keamanan Geopolitik: Di tengah ketegangan di kawasan Asia Pasifik, Jepang memandang hubungan ekonomi yang erat dengan AS sebagai jaminan keamanan nasional yang tidak bisa dikompromikan.
-
Efek Dompet: Dengan investasi US$36 miliar yang sudah mulai berjalan, membatalkan kesepakatan sekarang akan menyebabkan kerugian finansial dan reputasi yang masif bagi korporasi besar negara Sakura.
